Home / Hukum / Ekonomi / Perbankan Merevisi Proyeksi Pertumbuhan Kredit

Perbankan Merevisi Proyeksi Pertumbuhan Kredit

055539400_1426263943-FOTO_LIPUTAN6

Kalangan perbankan merevisi proyeksi pertumbuhan kredit karena masih lemahnya permintaan seiring dengan pelambatan pertumbuhan ekonomi. Kenaikan permintaan kredit pada semester II-2015 diperkirakan tidak akan mampu mendorong pencapaian target awal.

Hasil survei perbankan yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia (BI), pekan lalu, menunjukkan, responden merevisi pertumbuhan kredit bank tahun 2015 dari semula 17,1 persen menjadi 12,2 persen. Survei dilakukan terhadap 42 bank umum yang berkantor pusat di Jakarta dan menguasai 80 persen dari total penyaluran kredit perbankan umum.

Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs menjelaskan, pelambatan pertumbuhan kredit bank pada triwulan II-2015 disebabkan oleh masih rendahnya kebutuhan pembiayaan debitor. Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi yang melambat, sektor usaha yang dibiayai bank juga lesu. Per Mei 2015, kredit bank hanya tumbuh 10,3 persen selama setahun.

“Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi yang melambat, bank juga mewaspadai potensi kredit bermasalah terutama pada kredit modal kerja dan kredit investasi,” kata Peter, Senin (20/7), di Jakarta.

Pada Mei 2015, kredit bermasalah (NPL) untuk kredit investasi tercatat 2,81 persen, naik 0,25 persen dari posisi Maret. Adapun NPL kredit modal kerja tercatat 2,94 persen, naik 0,18 persen dari posisi Maret.

Pelambatan pertumbuhan kredit bank pada triwulan II-2015 juga terlihat dari meningkatnya jumlah responden yang realisasi kredit barunya di bawah target. Hasil survei menunjukkan, responden yang kredit barunya di bawah target mencapai 73,3 persen, lebih tinggi daripada persentase pada triwulan sebelumnya yang hanya 67,4 persen.

Pelambatan pertumbuhan kredit menyebabkan likuiditas bank menjadi sangat longgar. Statistik Perbankan Indonesia April 2015, yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan pada Juni lalu, menunjukkan, rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) hanya 87,94 persen, sementara pada April 2014 mencapai 90,79 persen. Pelambatan pertumbuhan kredit menyebabkan pendapatan bunga lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan beban bunga.

Pendapatan dan beban

Pendapatan bunga industri perbankan umum pada April 2015 tumbuh 18,066 persen selama setahun dari Rp 178 triliun menjadi Rp 210 triliun. Adapun beban bunga meningkat 47,36 persen selama setahun dari Rp 90 triliun menjadi Rp 113 triliun. Pendapatan bunga bersih, yakni selisih dari beban bunga dan pendapatan bunga, hanya tumbuh 10,5 persen dari Rp 87 triliun menjadi Rp 96 triliun.

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Achmad Baiquni, beberapa waktu lalu, menjelaskan, bank akan selalu menyesuaikan dengan kondisi perekonomian. Saat kondisi perekonomian melambat, bank tidak bisa memaksakan diri untuk agresif menyalurkan kredit.

“Kalau pertumbuhan kredit dipaksakan sesuai target sangat berisiko bagi bank karena ada potensi peningkatan kredit bermasalah. Dalam kondisi ekonomi tumbuh melambat, bank akan menjaga kualitas kredit,” kata Baiquni.

Ekonom Senior Standard Chartered BI Eric Alexander Sugandi menuturkan, pelambatan pertumbuhan kredit bank tidak bisa dihindari karena pertumbuhan ekonomi melambat. “Daya beli masyarakat melemah karena jatuhnya harga komoditas. Akibatnya, daerah-daerah yang bergantung pada sektor komoditas mengalami penurunan permintaan di sektor konsumsi,” kata Eric.

(Sumber : Kompas)

About admin

Check Also

Harga Emas Dunia Menurun

  Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange turun tajam pada perdagangan Kamis …

Leave a Reply