Home / Hukum / Ekonomi / Beberapa Jenis Industri Alami Penurunan Produksi

Beberapa Jenis Industri Alami Penurunan Produksi

capture-20150804-115348

Tren pertumbuhan produksi industri manufaktur terus berlanjut pada triwulan II-2015. Bahkan, dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2014, pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang lebih tinggi. Namun, produksi beberapa jenis industri turun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jika dibandingkan dengan triwulan I-2015, produksi industri manufaktur besar dan sedang selama triwulan II-2015 tumbuh 2,34 persen. Jika dibandingkan dengan triwulan II-2014, produksinya tumbuh 5,44 persen.

Pertumbuhan produksi industri manufaktur pada triwulan II-2015 itu didorong oleh peningkatan produksi industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya (16,43 persen), industri farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional (13,13 persen), dan jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan (9,43 persen).

Kepala BPS Suryamin, di Jakarta, Senin (3/8), menyatakan, produksi industri manufaktur besar dan sedang, serta mikro dan kecil sama-sama tumbuh. Pertumbuhan itu mencakup perbandingan dengan periode yang pada tahun lalu ataupun dibandingkan dengan triwulan I-2015.

Adapun jenis-jenis industri manufaktur besar dan sedang yang mengalami penurunan produksi antara lain industri pakaian jadi sebesar 12,77 persen, industri alat angkutan lainnya 6,52 persen, dan industri kertas dan barang dari kertas 5,63 persen.

Adapun pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan II-2015 tumbuh 5,09 persen dibandingkan dengan triwulan I-2015. Dibandingkan dengan triwulan II-2014, produksi industri mikro dan kecil triwulan II-2015 tumbuh 4,57 persen. Pertumbuhan itu antara lain didorong oleh peningkatan produksi industri kertas dan barang dari kertas (23,44 persen), industri mesin dan perlengkapannya (15,97 persen), dan industri peralatan listrik (12,69 persen).

Jenis industri manufaktur skala mikro dan kecil yang mengalami penurunan produksi, antara lain industri kayu, barang dari kayu, dan anyaman dari rotan (6,34 persen), industri alat angkutan (4,66 persen), dan industri barang galian bukan logam turun (3,82 persen).

Daya beli

Beberapa pelaku industri menuturkan, peningkatan daya beli dan perlindungan pasar dalam negeri dari gempuran impor diyakini akan semakin meningkatkan produksi manufaktur. Hal itu diperlukan di tengah penurunan permintaan dari beberapa negara tujuan ekspor.

“Penurunan ekspor terjadi untuk produk mebel rotan yang selama ini diminati konsumen di Eropa Timur,” kata Sekjen Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) Abdul Sobur, Senin. Ekspor mebel sedikit tertolong dengan perekonomian AS yang mulai pulih.

Menurut Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ernovian G Ismy, peningkatan daya beli dan perlindungan pasar domestik dari gempuran produk impor dapat meningkatkan produksi tekstil dan produk tekstil. “Kebijakan pengenaan bea masuk untuk beberapa jenis produk, pengurangan biaya logistik, pembenahan sektor pelabuhan juga bisa meningkatkan pertumbuhan produksi industri,” katanya.

(Kompas)

About admin

Check Also

Harga Emas Dunia Menurun

  Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange turun tajam pada perdagangan Kamis …

Leave a Reply