Home / Internasional / Devaluasi Yuan Ganggu Kurs Negara Lain

Devaluasi Yuan Ganggu Kurs Negara Lain

capture-20150812-094150

Devaluasi yuan mengagetkan dunia. Ini dianggap sebagai tindakan tidak tepat dan tidak saatnya. Hal ini mengubah persepsi tentang kekukuhan Tiongkok pada paradigma pembangunan ekonomi yang tidak lagi mengandalkan ekspor. Devaluasi adalah pemerosotan kurs secara sengaja lewat kebijakan pemerintah.

Devaluasi dan depresiasi akan mendorong daya saing ekspor. Namun, devaluasi yuan juga mengganggu kurs negara lain, terutama negara berkembang Asia, yang langsung merosot. Hal itu juga memengaruhi indeks saham dan pasar obligasi global.

Negara-negara Asia adalah pesaing Tiongkok dalam perdagangan dunia sehingga devaluasi yuan akan mengganggu daya saing Asia lainnya. Perkembangan terbaru ini diawali dengan pengumuman Bank Sentral Tiongkok (PBOC) di Beijing, Selasa (11/8).

PBOC mendevaluasikan yuan 1,9 persen menjadi 6,2298 yuan per dollar AS, terendah dalam tiga tahun terakhir. Devaluasi ini adalah pertama sejak 1994.

Penjelasan PBOC tentang devaluasi itu membingungkan. ”Karena perdagangan Tiongkok terus mencatatkan surplus besar, kurs efektif yuan relatif kuat terhadap sejumlah mata uang global, dan terus mengalami deviasi dari harapan pasar,” demikian PBOC. ”Karena itu, penting untuk memperbaiki lebih jauh kurs yuan sesuai keinginan pasar.”

Surplus perdagangan seharusnya memperkuat mata uang negara pemilik surplus.

PBOC juga menyatakan devaluasi merupakan sebuah langkah membuat kurs yuan ditentukan pasar, yang hingga sekarang masih dipatok.

Para ekonom pun berbeda pendapat tentang devaluasi ini. Devaluasi yuan bertentangan dengan kebijakan Tiongkok untuk mempertahankan yuan yang kuat, mendorong konsumsi domestik dan investasi ke seberang.

”Untuk sekian lama saya memberi kredit kepada PBOC karena mempertahankan yuan yang kuat walaupun ada godaan mendevaluasikan demi mempertahankan pertumbuhan sesuai pola pertumbuhan lama yang mengandalkan ekspor. Aksi terakhir ini justru menjadi akhir dari kebijakan pembangunan baru, yang telah meninggalkan ekspor sebagai andalan,” kata ekonom Patrick Chovanec dari Columbia University.

Namun, jika tindakan Tiongkok adalah mendorong ekspor, devaluasi 1,9 persen tidak memadai. ”Jika tujuannya mendorong ekspor, devaluasi seharusnya lebih dari 1,9 persen,” kata Stephen Roach, dosen dari Yale University. ”Ini meningkatkan potensi perang kurs.”

Ekonom AS, DR Nouriel Roubini, sudah memperkirakan perang kurs, diawali dengan pemasokan uang beredar AS sejak krisis 2008. Hal ini dilanjutkan Jepang dengan memasok uang beredar dan melemahkan yen. Roubini sudah mengkhawatirkan ini akan diikuti Tiongkok, terlebih lagi Asia juga melemahkan kursnya, seperti Korea Selatan.

Ada pendapat, devaluasi adalah reaksi atas penundaan pemasukan yuan terhadap special drawing right (SDR) IMF, seperti dikatakan pakar valas, Steven Saywell dan Dariusz Kowalczyk.

SDR adalah julukan bagi pengakuan IMF pada satu mata uang yang dipakai sebagai denominasi penyimpanan cadangan devisa dan mata uang yang dipakai IMF untuk operasionalnya.

Tiongkok berkeinginan yuan masuk ke dalam SDR di IMF, yang mengindikasikan penundaan yuan masuk SDR hingga 1 Oktober 2016.

Reaksi Tiongkok mengganggu Amerika Serikat, yang paling keras menolak yuan masuk ke SDR. Tidak jelas, apakah devaluasi adalah peringatan pada AS dan IMF untuk tidak mempermainkan Tiongkok.

(Kompas)

About admin

Check Also

Segera Cabut Sanksi Ekonomi Iran, AS dan Uni Eropa

Amerika Serikat dan Uni Eropa Minggu waktu AS (18/10) mengambil langkah resmi yang akan mencabut …

Leave a Reply