Home / Hukum / Ekonomi / KKP Berharap Akuntabilitas Terkait Kebutuhan Impor Garam

KKP Berharap Akuntabilitas Terkait Kebutuhan Impor Garam

capture-20150812-101550

Impor garam seharusnya tidak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan industri aneka pangan. Alasannya, garam untuk industri aneka pangan sudah mampu dipenuhi oleh petani garam. Dengan demikian, petani garam lebih dapat diberdayakan.

Hal itu disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, di Jakarta, Selasa (11/8). “Kalau mau membantu petani garam, impor garam untuk industri aneka pangan seharusnya tidak diperbolehkan,” kata Susi.

Selain itu, menurut Susi, jika rembesan impor garam terus berlangsung, upaya pemberdayaan petani garam akan sia-sia. Harga garam di tingkat petani dipastikan anjlok karena tergerus produk garam impor.

Menurut Susi, impor garam industri yang masuk seharusnya hanya ditujukan bagi industri kimia pengguna garam. Industri kimia memerlukan impor garam dengan standar kualitas yang sangat tinggi.

Susi menambahkan, impor garam industri seharusnya cukup 1,1 juta ton dari total kebutuhan sebesar 2,2 juta ton. Tahun 2015, pemerintah telah menargetkan produksi garam industri mencapai 1,1 juta ton. “Persoalannya, impor garam industri berlebihan dan masuknya saat panen,” katanya.

Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sudirman Saad berharap ada akuntabilitas terkait kebutuhan dan realisasi garam impor. Selama ini, alokasi impor garam belum transparan sehingga berpotensi melibas garam petani. “Kalau impor garam melebihi kebutuhan, diduga (garam impor) lepas ke pasar,” katanya. Pada awal panen, produksi garam petani di Jawa Barat baru 1.500 ton. Suplai sedikit, tetapi harga jual garam jatuh hingga Rp 300 per kilogram.

Pengawasan industri

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Karyanto Suprih mengatakan, sejak 2013 Kemendag tak pernah mengeluarkan izin impor garam konsumsi. Kemendag hanya mengeluarkan izin impor garam industri, seperti industri aneka pangan, farmasi, dan sabun detergen, pada 2014 sebanyak 2,25 juta ton. Pada tahun 2015, total impor garam industri sebanyak 1,5 juta ton. “Memang tidak tertutup kemungkinan adanya rembesan. Ini lebih pada pengawasan di sektor industri. Hal itu bisa ditelusuri melalui rekomendasi yang diterbitkan dan realisasi serapan garam industri,” katanya.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harjanto mengatakan, garam terbagi dalam dua klasifikasi, yakni garam konsumsi dan garam industri. Garam konsumsi dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga dan garam industri antara lain dibutuhkan industri kimia, aneka pangan, farmasi, dan penyamakan kulit.

Dari data Kemenperin, sebagian besar garam industri masih harus diimpor karena spesifikasi garam yang dibutuhkan industri dinilai belum dapat diproduksi di dalam negeri. Kebutuhan garam industri tahun 2014 sebanyak 2.575.600 ton dan tahun 2015 diperkirakan 2.605.000 ton.

Secara terpisah, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Mohammad Iqbal mengatakan, dalam kasus dugaan korupsi terkait impor garam, tim Satgas Khusus tengah mengembangkan kasus itu ke luar Jakarta. Penyidik menggeledah sejumlah kantor importir garam di Jawa Timur, seperti Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo.

(Kompas)

About admin

Check Also

Harga Emas Dunia Menurun

  Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange turun tajam pada perdagangan Kamis …

Leave a Reply